Setelah mengetahui lokasi getaran, tanpa berpikir panjang, Lynx melesat seperti kilat, tubuhnya menghilang dalam bayangan pepohonan. Dalam beberapa napas, dia sudah tiba di tepi jurang. Saat dia mengamati sekeliling, tiba-tiba seorang pria berbaju serba hitam muncul dari dalam jurang. Pria itu terlihat kaget melihat Lynx, dan tanpa basa-basi, dia melemparkan pisau terbang ke arahnya dengan kecepatan yang mengesankan.

Lynx, yang tidak ingin mencari masalah dan tidak mengenal pria itu, memutuskan untuk pura-pura terkena pisau tersebut. Dia membiarkan pisau itu melesat dekat tubuhnya, lalu terjatuh ke tanah sambil berpura-pura kesakitan. Pria itu, yang tampaknya terburu-buru, tidak mengecek lebih lanjut dan segera melarikan diri ke arah hutan.

"Pria yang mencurigakan, tanpa pandang bulu langsung main serang saja." batin Lynx sambil bangkit dengan cepat setelah memastikan pria itu sudah pergi dan mengusap debu dari bajunya sambil mengamati jurang di depannya.

"Apa yang dia lakukan dibawah sana?" Lynx segera menggunakan penglihatan tembus pandangnya, dia mencoba memeriksa keadaan di dalam jurang. Namun, karena jaraknya yang terlalu jauh, yang bisa dia lihat hanyalah debu berterbangan yang menandakan getaran sebelumnya berasal dari tempat tersebut.

"Ada sesuatu yang terjadi di bawah sini," gumam Xiao Ling, matanya menyipit. "Semoga tidak berhubungan dengan misi yang dijalankan oleh Kael dan Arkha. Aku harus kebawah memeriksanya."

Namun, sebelum Lynx terjun ke bawah, dia merasakan seseorang yang cukup kuat bergerak dengan cepat kearahnya. Tidak lama kemudian, seseorang berjubah hitam dengan penutup wajah muncul di tepi jurang. Aura yang dipancarkannya begitu kuat, menandakan bahwa dia berada di tingkatan Grandmaster Fana. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Xiao Ling, yang masih berdiri di tepi jurang dengan tingkat Forging Qi tingkat dua. Tanpa basa-basi, pria itu mengangkat tangannya, mengumpulkan energi gelap di telapak tangannya.

"Kau tidak seharusnya ada di sini," gumam pria itu dengan suara serak, sebelum melepaskan serangan kilat berwarna hitam ke arah Lynx. Dia berniat membunuh dalam sekali serang agar tidak ada yang mengetahui kedatangannya.

Lynx, yang tidak ingin mencari masalah, memutuskan untuk tidak melawan. Dia membiarkan serangan itu menghantamnya, tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh ke tanah dengan keras. Dia berpura-pura terluka parah, sambil mengamati gerak-gerik pria itu dari balik kelopak matanya yang setengah tertutup.

Pria berjubah hitam itu tidak peduli dengan Lynx yang dianggapnya lemah. Dia melompat ke bawah jurang, tubuhnya melayang dengan anggun di atas pedang terbang yang memancarkan aura dingin. Dengan cermat, dia memeriksa jalur yang sudah runtuh, matanya menyipit saat melihat bekas-bekas kehancuran.

"Jalur ini baru saja hancur, seseorang sudah mendahuluiku." gumamnya pelan. Dia mengulurkan tangannya, mencoba menggunakan kekuatan elemen tanah untuk membuka kembali terowongan yang runtuh. Energi cokelat mengelilingi tangannya, tetapi setelah beberapa saat, dia menghela napas frustrasi. "Kekuatanku tidak cukup untuk membuka ini. Tapi jalur ini menandakan informasi tentang keberadaan kunci dan jebakan itu memang benar," pikirnya sambil terbang menjauh. "Tapi siapa yang berani mencoba mengambil kunci itu?" Pria itu sangat yakin bahwa seseorang telah berusaha mengambil kunci dari ruang rahasia dan memicu jebakan.

"Mungkinkah pemuda tadi? Seharusnya aku tidak langsung membunuhnya agar bisa mendapatkan informasi. Tapi dengan kekuatan selemah itu, tidak mungkin jika dia yang melakukannya." Batin pria misterius tersebut.

"Ketua Sekte Kegelapan pasti sangat marah jika aku gagal mendapatkannya. Fragmen di kota Huoling sudah gagal didapatkan, aku tidak boleh ikut gagal." Batinnya.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara banyak langkah kaki yang mendekat. Beberapa orang dengan aura kuat sedang bergerak ke arah jurang. Pria itu mengerutkan kening, lalu dengan cepat melesat ke atas, kembali ke tepi jurang. Dia melirik ke arah Lynx yang masih terbaring, lalu menghela napas. "Dasar lemah, sekali serang sudah mati, itu salahmu berada di tempat dan waktu yang salah," gumamnya. "Aku harus pergi terlebih dahulu dan melihat situasi."

Dengan gerakan cepat, dia melompat  dan bergerak menjauh untuk bersembunyi, memperhatikan rombongan yang datang mendekat. Sementara itu, Lynx yang merasakan pria yang menyerangnya bersembunyi di kejauhan serta mendengar suara orang-orang mendekat, segera berpikir cepat, "Jurang ini membuatku semakin penasaran, ada apa didalamnya sehingga orang tadi juga datang memeriksa?" Lynx bergerak secepat kilat terjun menuju kearah bawah jurang.

Pria yang bersembunyi dari kejauhan merasa kaget karena sosok Lynx tidak terlihat lagi dari lokasinya bersembunyi. "Aku yakin mayat anak itu ada disana saat kutinggal. Kemana dia sekarang?" batinnya sambil memeriksa lebih detail.

Tidak lama setelah pria berjubah hitam itu pergi, sekelompok murid Sekte Api Langit tiba di tepi jurang. Mereka terlihat kebingungan, matanya memandang ke sekeliling jurang dan menatap jauh dibawah Jurang.

"Apakah ini longsoran biasa?" tanya salah seorang murid, suaranya penuh keraguan. Dia menginjak-injak tanah dengan hati-hati, mencoba merasakan getaran yang tersisa.

"Sepertinya iya," jawab murid lain sambil mengamati debu tipis yang masih beterbangan dari dasar jurang. "Tidak ada tanda-tanda aneh, kita juga tidak ada merasakan tanda-tanda pertarungan atau energi Qi yang tersisa."

Mereka berjalan mendekati tepi jurang, mencoba melihat ke bawah. Namun, kegelapan menghalangi pandangan mereka. "Tidak ada yang istimewa di sini," kata seorang murid senior sambil menghela napas. "Sepertinya memang hanya longsoran biasa. Jurang ini sangat terjal, kita tidak mungkin turun memeriksanya. Lebih baik kita kembali dan melaporkan ini kepada Guru Yuan."

Murid-murid itu mengangguk setuju, lalu berbalik untuk kembali ke sekte. Mereka tidak menyadari bahwa seseorang  bersembunyi mengintip mereka dari kejauhan, mengamati setiap gerakan mereka dengan cermat.

***

"Lapor, Tuan, beberapa orang sudah memasuki lorong tersebut, dan satu orang berhasil melarikan diri. Selain itu, ada seorang pemuda yang juga mendatangi tempat tersebut. Namun, setelah kedatangan seorang Grandmaster Fana, dia membunuh pemuda itu. Sekarang, Grandmaster tersebut sedang berada di bawah jurang untuk memeriksa keadaan," kata salah seorang pria tua yang memiliki kekuatan Grandmaster Bumi, melaporkan peristiwa yang terjadi di jurang.

"Bagus, rencana kita berjalan lancar," kata pria tua yang dipanggil "Tuan" dengan suara dingin. "Segera perintahkan anak buah kita untuk menyebarkan berita bahwa seseorang sudah berhasil mendapatkan kunci tersebut dan orang tersebut sudah menghancurkan lokasi tempat rahasia itu. Mereka pasti akan mempercayainya karena ada saksi mata yang melihat gua tersebut runtuh."

"Tetua Huang, kamu juga sebarkan berita tersebut di dalam Sekte Api Langit. Pastikan mata-mata yang ada di dalam sekte ini secara tidak langsung menyebarkan berita tersebut," lanjutnya lagi.

"Baik, Tuan," kata Tetua Huang dengan patuh, lalu segera menjalankan perintah yang diberikan.

"Tunggu! Bagaimana keadaan Ling Mei? Kamu harus melepaskannya. Dia tidak ada urusannya dengan hal ini." kata Ketua Sekte.

"Tidak ada urusan? Kesalahannya sendiri mendatangi tempat ini. Rasa keingintahuan lah yang menyakitinya dan kamulah penyebab kematiannya." kata pria tua tersebut dengan tertawa.

"Zhao Xinyue, sekarang sudah waktunya kamu mengantarku ke tempat kunci tersebut kamu sembunyikan," kata pria tua itu dengan nada mengancam, matanya menyala seperti api. "Ingat, aku bisa membunuh kalian dengan mudah, namun tentunya aku akan menyiksa kalian semua terlebih dahulu sebelum membunuh."

Ketua Sekte, Zhao Xinyue, menatap pria tua itu dengan tatapan penuh kebencian. "Apa sebenarnya yang kamu rencanakan? Apa kamu pikir dengan membangkitkan senjata iblis, kamu bisa mengendalikannya? Kamu hanya akan menjadi iblis yang haus darah," katanya, berusaha mengingatkan.

Pria tua itu tertawa keras, suaranya menggema di ruangan sempit. "Itu adalah urusanku. Kamu tidak perlu pusing memikirkannya," katanya sambil mengangkat tangannya. Dengan kekuatan yang luar biasa, dia membuat tubuh Zhao Xinyue terangkat dan melayang di udara.

"Besok adalah batas terakhirmu menyerahkan kunci itu. Jika tidak, maka besok, semua persiapanku sudah selesai, dan kamu akan menjadi saksi hancurnya Sekte Api Langit yang sudah berdiri selama ribuan tahun, di mana sekte ini hancur di bawah kepemimpinanmu," ancam pria tua itu, suaranya penuh kemenangan.

